Monas untuk Garut

“Teng…, Teng…, Teng…,”

Bukan suatu bunyi bel yang bagus memang. Namun cukup membuat hampir seluruh dari anak SMA Saturnus bersorak riang. Satu per satu dari mereka keluar kelas setelah guru mata pelajaran terakhir tak tampak lagi di dalam ruang kelas nan membosankan itu.

Kelas X-12 pun seketika menjadi sepi senyap. Tulisan di papan, meja, dan bangku di sana menjadi saksi perjuangan menempuh pelajaran hari ini. Cukup membuat lelah.

“Dis, loe bareng kita ngga?” tanya Geby ke salah satu sahabatnya, Gladis.

“Emp, sorry ya hunny bunny sweety angel-ku sayang. Gue pulang bareng Revan aja deh,” jawab Gladis dengan senyum yang mengembang. Ia menata posisi tasnya, dan menunggu jawaban dari salah satu atau salah semua sahabat Sweety Angel-nya itu.

“Yaelah… Ngerti deh yang langgeng. Ya udah, gue, Chika, sama Betty pulang dulu yah?”

Gladis hanya mengangguk dan kembali tersenyum. Ketiga sahabatnya itu meninggalkannya berjalan sendiri ke arah gerbang sekolah.

Tak tampak batang hidung Revan, motornya, atau apapun tentang dia. Kira-kira sudah dua puluh menit ia menunggu di depan gerbang hijau sekolahnya. Sesekali ia menatap arloji di tangannya, atau membuka handphone-nya sekiranya Revan memberi kabar. Namun, nihil.

“Tut…,tut…,tut…,”

“Sial, kenapa sih ini anak? Nomer ngga bisa dihubungin. SMS ngga dibales. Hihh,” Gladis semakin kesal.

Tiba-tiba, HP-nya berdering. Nada sms itu menggoda Gladis untuk langsung menekan tombol baca.

“Hari ini ada latihan futsal. Maaf ngga bisa jemput,” inilah sms dari nomor Revan yang membuat senyum Gladis hilang.

Tidak ada becak, tidak ada bajaj, tidak ada taksi, dan arghhhh… tidak ada siapa-siapa di sini. Dengan seluruh perasaan kesal, marah, bercampur sedih yang menggila, Gladis berjalan menyusuri aspal nan keras dan panas menuju rumahnya. Untung saja rumahnya tak jauh dari sekolahnya tersayang ini.

Sesekali ia menendang kerikil yang mencoba menahan langkahnya. Ia terus berjalan, terus melangkah, hingga akhirnya di depan sebuah kafe bertuliskan “Dizzy Food Cafe”. Matanya tertuju pada suatu titik.

“Revan?”

Ia menghampiri lelaki itu. Dan begitu tersentaknya lelaki itu mendapati Gladis berada tepat di sampingnya.

“Oohh, ini lapangan futsal yang kamu maksud? Dan ini bola yang bakal kamu tendang?” sindirnya ke Revan.

“Heh, cewe ganjen, ati-ati aja ya loe sama cowo kayag gini. Dia ini anak futsal. Bisa nendang loe kapan aja. Kayak saat ini,” lanjutnya mengarah ke cewe di depan Revan.

Gladis beranjak pergi. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan indah akan hari ini hilang, lenyap ditelan kisah cinta Revan dengan gadis yang ternyata bernama Sasha itu.

Beruntung. Ada taksi di sekitar kafe itu.

“Brakk,” Gladis menutup pintu taksi dan kemudian taksi itu melaju.

Ia masih menahan air matanya yang hendak jatuh. Menangis. Ya, ia tau itu bukan solusi yang baik. Teman-temannya selalu berkata seperti itu setiap mengetahui Gladis yang tengah bersedih.

“Kamu yang salah! Kamu itu seorang ibu! Bukannya ngerawat anak, eh malah pulang malam terus,”

“Aku pulang malam karena aku harus mengobati pasien-pasienku. Mas mau tanggung kalau mereka kehilangan nyawanya karena terlambat mendapat penangananku? Lagipula, mas kan bisa jaga Gladis, jemput Gladis, atau bagaimanalah,”

Pertengkaran yang seperti ini sering dan hampir selalu terdengar di telinga Gladis. Memuakkan. Gladis memandang mama dan papanya yang terus saja adu mulut, kemudian meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.

“Duarrrr…,” pintu setengah tua itu dibanting terlalu kencang. Tempat foto yang bergelantung di permukaannya bergetar cepat dan hampir saja terjatuh.

Air matanya tak tertahan lagi. Ia melempar tubuhnya ke kasur di kamarnya itu. Wajahnya pucat.

“Brummm…,” ia mendengar suara deru mesin mobil papa. Tak lama kemudian disusul mobil mamanya.

Keadaan ini membuatnya putus asa. Tidak ada yang memperhatikannya dan terlebih lagi seseorang yang menjadi motivator besarnya kini telah pergi dari kehidupannya.

Ia menghapus tangisnya dan membuka kunci pintu kamarnya.

“Bi Inah,” panggilnya setengah berteriak.

“Iya, Non,”

“Tolong beliin kue tart coklat strawberry di toko biasanya. Ini uangnya. Bibi suruh nganterin Pak Maman aja. Cepetan,”

“Baik, Non,”

Setelah Bi Inah keluar dari halaman rumah bersama Pak Maman, Gladis langsung mengambil kopernya dan memasukkan beberapa pakaian dan perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan. Ya, kabur. Ia sudah tidak tahan lagi.

“Mungkin ini jalan yang terbaik. Nenek pasti mau nerima aku sementara di sana,” pikirnya.

Setelah semua beres, ia melangkah keluar dan berjalan mencari taksi. Sebuah taksi putih mendekat ke arahnya.

“Taksi…,” panggilnya.

Mobil putih itu berhenti di sampingnya. Gladis langsung masuk dan taksi itu melaju kencang.

“Terminal, Pak,” katanya pada sopir taksi itu. Sopir menjawab dengan anggukan kepala.

Ini kali pertama bagi Gladis melakukan perjalanan jauh sendirian, tanpa mama, tanpa papa. Lamunnya melayang membentuk wajah mama dan papa, Revan dan Sasha. Pertengkaran itu, kebohongan itu, arghhhh… Gladis tak mau lagi mengingatnya. Ia ingin sedikit saja me-refresh-kan fikirannya. Terlalu sakit untuk mengingat kenangan-kenangan buruk itu.

“Garut, Garut…,” kata kondiktur bis itu mencari penumpang.

Gladis tersentak dari tidurnya mendengar kata ‘Garut’. Ya, di sinilah kakek dan neneknya tinggal. Ia menuruni satu per satu anak tangga bis.

“Aduh, mati gue. Gimana caranya ke rumah nenek? Haduuhh,” keluhnya.

Beberapa kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar-benar tampak seperti orang hilang.

“Neng, mau ke Gunung Papandayan, Neng?” kata seorang kondiktur bis mini yang menepuk pundaknya pelan.

Sejenak ia teringat, mama dan papanya sering menyebut kata itu ketika hendak ke rumah nenek di Garut.

“Mau ke Gunung Papandayan ya, Pak?”

“Iya, Neng. Mari mari…,”

Gladis mengikuti derap langkah kondiktur berbaju biru lusuh dan kumal itu. Tapi, ah, tak sempat lagi untuknya menghindar. Ini satu-satunya cara supaya ia dapat cepat sampai di rumah nenek.

“Brumm… Brum…,” deru mesin bis itu terdengar begitu kencang dan kasar mengikuti arah jalan menuju Gunung Papandayan.

“Stop, Pak! Stop!” kata Gladis sesaat setelah melihat musholla kecil di pinggir jalan.

Ia memberi selembar uang sepuluh ribuan ke kondiktur bis itu, dan kembali berjalan menyusuri gang kecil di samping musholla.

“Tok, tok, tok… Assalamu’alaikum,” katanya sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam,” ada jawaban dari balik pintu.

“Kreeeekk,” derit pintu tua yang sudah mulai rapuh itu.

Tampak seorang wanita paruh baya yang sudah dipenuhi uban, kulitnya sudah keriput membuka pintu yang sama tua dengan dirinya. Dan begitu tersontaknya ia ketika melihat cucunya itu datang.

Gladis langsung menyalami neneknya itu. Dengan masih penuh pertanyaan di benaknya, nenek menyuruh cucu gadisnya itu masuk ke dalam rumah kecilnya itu.

“Haliza, tolong buatkan minum untuk Gladis. Uhuk, uhuk…,” kata nenek kepada Tante Haliza dari ruang tamu.

“Gladis, Bu? Ibu bercanda? Tidak ada Gladis di sini,”

“Sudah, cepat sana!”

Tante Haliza menuruti apa kata nenek. Meskipun sebenarnya adik ibunya itu setengah tidak percaya.

“Gladis? Tumben kamu ke sini? Mama papa kamu mana?” kata Tante Haliza pada Gladis sembari menyodorkan segelas teh hangat.

Terbayang di benaknya mama dan papanya yang terus saja bertengkar, berdebat, adu mulut, dan arghhh seluruh bayangan itu semakin membuat dadanya sesak. Gladis tetap tidak mau mengatakannya. Ia hanya diam dan berkata suatu saat mereka pasti mengerti. Membuat nenek, kakek, dan Tante Haliza semakin penasaran. Tapi ya sudahlah, mungkin Gladis butuh waktu, pikir mereka.

Hari berganti hari. Gladis semakin terbiasa hidup di desa, dengan sawah, dengan udara dingin, dengan hijau, dan dengan kebosanan yang ia rasa. Biasanya, ia keluar untuk ke mall, ke rumah temen, ke basecamp, atau hanya sekedar mengelilingi Jakarta nan semakin panas.

“Gladis mau jalan-jalan dulu ya, Nek, Kek,”

“Kemana, Dis?” tanya kakek.

“Kemana aja. Janji deh ngga akan pulang malem. Bye bye, Nenek. Bye bye, Kakek” katanya langsung beranjak pergi.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak lereng gunung. Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah jembatan ketika melihat sebuah sungai jernih, dengan batu batu besar yang membuatnya semakin terlihat sempurna. Gladis tergoda untuk beristirahat sejenak di sana. Ia memandang sungai itu dari atas jembatan.

“Neng, Neng… Jangan bunuh diri atuh, Neng,” kata seseorang dari kejauhan sana. Ia mengulangi kata-kata itu beberapa kali. Hingga akhirnya ia mendekat dan menarik lengan Gladis.

“Apa sih? Siapa juga yang mau bunuh diri?”

“Neng, bunuh diri itu dosa, Neng,”

“Eh, sok tau banget sih loe. Gue itu ngga mau bunuh diri. Noh, liat! Sungainya bagus banget. Bukannya gue mau bunuh diri,” sahut Gladis dengan kata-kata ketus dan melepas tangannya dari cengkraman tangan laki-laki aneh itu.

“Walah, syukur lah kalau begitu. Saya jadi lega, Neng,”

Gladis hanya manyun mendengar jawaban innocent laki-laki itu. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke sungai di bawah sana.

“Neng ini bukan asli daerah sini ya? Kayaknya kuring (saya) belum pernah liat Eneng,”

“Bisa ngga sih berhenti manggil gue dengan kata Eneng? Nama gue bukan Eneng,”

“Wah, terus nama Eneng siapa?”

“Gladis. Jadi, berhenti pake kata kata aneh loe itu,”

“Perkenalkan, nama kuring Gito,”

“Siapa?”

“Gito, Neng…,”

“Siapa yang nanya?!?!” sahut Gladis cetus dan kemudian berlalu.

Ia kembali menyusuri jalan di desa itu. Laki-laki yang ternyata memiliki nama Gito itu sudah tak nampak lagi. Mungkin sudah hilang atau ditelan angin yang bertiup dicampur debu panas dan asap kendaraan, pikirnya. Tapi, sudah tak dipedulikan Gladis lagi. Lelahnya berjalan kini mulai terasa, ditambah dengan matahari yang sudah tak bersahabat lagi.

“Rumah pohon?” katanya ketika melihat sebuah rumah pohon di atas pohon mangga nan rindang itu.

Terfikir olehnya untuk naik ke atas dan beristirahat sejenak di sana. Keringat yang mengucur memaksanya untuk segera memanjat pohon itu. Untung saja, pemilik rumah pohon ini menyediakan tangga dari kayu yang sangat sederhana. Tapi tak masalah, yang penting… ISTIRAHAT!!

“Loh? Neng ini lagi? Neng… Neng… Oh, iya. Namanya Gladis. Neng Gladis, Neng Gladis…,” kata Gito sembari menggoyang-goyang tubuh Gladis.

“Hoams… Eh, ngapain loe di sini?”

“Lah? Harusnya mah kuring yang nanya ke Eneng. Ini kan gubuk kuring,”

“Jadi, ini rumah pohon loe?” kata Gladis setengah tidak percaya.

Mereka mulai tampak akrab, ya meskipun sikap Gladis tetap cuek bebek pada teman barunya itu. Gito bercerita banyak tentang gubuk yang dibuatnya dengan kakeknya yang kini sudah meninggal, tentang indahnya desa ini, tentang sungai jernih di bawah jembatan yang tadi mereka temui, tentang nenek, kakek, dan Tante Haliza yang baik kepadanya, tentang sekolah dan teman-temannya, dan masih amat sangat teramat banyak sekali.

Tapi entah mengapa untuk kali ini Gladis tidak bosan mendengar celotehan teman barunya ini. Bahkan ia tergoda untuk selalu bertanya agar Gito bercerita dan terus bercerita. Dan hebatnya, Gito tidak pernah kehabisan cerita. Gladis juga bercerita banyak, termasuk alasannya datang dan bisa disebut ‘kabur’ ke Garut.

“Eh, Gito. Itu, apa yang loe bawa?”

“Oh, ini. Ini layang-layang. Tapi belum jadi, Neng. Masih bahan mentah, hehe,”

“Terus buat apa kalo masih bahannya doang?”

“Ya, buat dijadiin layang-layang, Neng,”

“Buat sendiri?”

“Iya, Neng. Neng mau kuring ajarin? Kuring mau kok ajarin Eneng,”

“Beneran?” Gladis tampak sumringah.

Gito mulai menggerakkan tangan lincahnya untuk membuat sebuah layang-layang. Sesekali, Gladis mencoba membantunya. Dan hasilnya, wow, keren banget. Layang layang itu diberi tulisan ‘Gladis-Gito’ dengan background putih yang semakin membuatnya tampak cantik.

“Ternyata bikin layang-layang itu nggak semudah yang gue fikir. Ini butuh sabar yang luar biasa. Andai aja orang tua gue bisa sesabar Gito, ya?” fikir Gladis dalam hati. Tapi, ia mencoba menghapus semua fikiran itu.

“Gito, Gito… Kita coba yuk?” kata Gladis semangat. Ia menarik lengan Gito dan mulai menuruni tangga yang melekat di pohon itu.

“Srekkkkk…,”

Layang-layang itu tersangkut di pohon mangga milik Gito. Gladis panik bukan kepalang. Sedangkan Gito, hanya tersenyum, dan berkata,

“Tenang aja, ayo kita ambil,”

“Biar gue aja ya?” kata Gladis. Mungkin sebagai permintaan maaf dan rasa bersalah serta tanggung jawabnya.

“Cit…,cit…,citt…,” anak anak burung di dalam sangkar seakan menjerit ketika pohon mulai bergoyang karena Gladis.

“Argghhhh… Burung sialan!”

“Brukk…,” sarang burung itu jatuh. Sedangkan burung-burung itu berhasil terbang ke dahan terdekat.

“Gito…, gue dapet layang-layangnya nihh,” sorak Gladis.

Namun, tak ada jawaban dari Gito. Sampai Gladis telah menginjakkan kakinya ke tanah pun, Gito belum juga menimpali kata-kata Gladis. Ia sibuk dengan sarang burung yang jatuh itu.

“Gito? Loe ngapain sih?”

“Burungnya kasian, Neng,” ia mulai membuka mulutnya untuk menimpali pertanyaan Gladis.

“Ya udah lah biarin aja. Lagian itu cuma sarang burung, ngga ada burungnya. Santai aja lagi,”

Gito berdiri sambil terus memegang erat sarang burung itu. Kemudian ia naik ke atas pohon mangga nan kokoh itu, menaruh sarang burung itu, dan barulah ia turun.

“Gito…,” Gladis terus memanggil nama Gito. Namun, Gito hanya diam dan terus berjalan. Entah mau kemana.

“Gito, loe kenapa sih? Cuma gara-gara sarang itu loe marah sama gue?”

“Neng, sarang itu begitu berarti buat mereka, Neng. Kuring pernah mengalami hal yang hampir sama dengan mereka. Kehilangan orang tua karena rumah kami diambil paksa oleh pihak pemerintah,”

Gladis terdiam mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Gito.

“Kuring tau mereka cuma burung, yang Eneng anggap bukan siapa-siapa, tapi lihatlah apa Eneng tega memisahkan anak-anak burung yang masih lemah itu dengan induknya?”

“Gu..gue..,” kata Gladis terbata-bata.

“Udah lah, ngga usah Eneng fikir lagi. Mending sekarang Eneng pulang. Ini udah sore. Nanti nenek Eneng nyariin loh,”

“Tapi, tapi loe harus janji dulu, ngga

marah lagi ke gue. Dan gue  juga bakal janji gue ngga akan ngulangin itu lagi. Baik waktu di desa atau nanti suatu saat ketika gue kembali ke Jakarta,”

“Iya, kuring ngga marah lagi sama Eneng. Ya udah, kuring duluan ya. Assalamu’alaikum,”

“Waalaikumsalam,”

Keduanya berpisah karena memang jalan mereka berbeda. Petani-petani di sawah pun mulai turun ke jalan untuk pulang. Matahari di ufuk barat pun seakan mulai memberi salam perpisahan. Teduh dan damai.

Sesampainya di rumah nenek, ia langsung masuk ke kamar. Ia teringat kata-kata Gito. Terbayang olehnya jika ia menjadi Gito, atau anak burung itu. Setidaknya ia bersyukur, orang tuanya masih dalam keadaan sehat. Meskipun, ia sudah tidak merasakan kasih sayang seperti yang orang lain dapatkan. Ia begitu merindukan kehangatan dalam rumahnya. Tak tertahankan lagi, air matanya mulai mengucur deras. Hingga ia tak sadar, nenek sudah duduk di sampingnya. Memeluknya.

“Nenek sekarang tau masalahmu, Nak. Kamu yang sabar ya,”

Air mata Gladis semakin mengucur deras di bahu nenek. Ia tak kuasa mengucap sepatah kata pun.

Hingga terang berganti gelap, biru menjadi hitam, matahari berganti bulan dan bintang, dan panas pun menjadi dingin, hati Gladis tetap tak berubah. Dadanya sesak. Matanya sembab. Tapi ia lega, mama dan papanya masih mengingatnya. Tak lama, matanya mulai terpejam.

“Gladis…, Gladis…,” panggil Tante Haliza sambil menggoyangkan tubuh Gladis agar terbangun.

“Ada apa sih, Tante?”

“Gito nyari kamu itu,”

“Gito? Ke sini, Tante? Ngapain lagi si Gito pagi-pagi udah ke sini? Hoams…,”

“Pagi kamu bilang? Aduh, Gladis, ini itu udah hampir jam sepuluh,”

Gladis terkejut dan langsung menyibakkan selimutnya. Beranjak dari kasurnya yang keras dan menuju ruang tamu menemui kawan barunya itu, Gito.

“Neng Gladis, main layang-layang yuk di kebun teh?”

“Hmm? Gue ikut dong,”

“Oke. Buruan mandi sana, terus kita pergi,”

Secepat kilat, Gladis menghilang dan sudah berada di kamar mandi. Kali ini tidak ada acara luluran, pake shampo, main air atau hanya sekedar bernyanyi dan bersiul.

Jreng jreng jrengg… Bau harum sabun plus parfum lavender milik Gladis membuatnya semakin mempesona.

“Ayo, cabut,” ajaknya sambil menarik lengan Gito kuat-kuat.

Benar saja, Gito mengajak Gladis ke kebun teh milik kepala desa. Mereka berlarian ke sana ke mari mengejar layang-layang. Panasnya terik mentari tak terasa lagi. Seakan menyapu bersih seluruh masalah dan berhasil mengeringkan tangisan Gladis.

“Huh, huh, huh… Capek ya, Neng?”

“Ngga tuh,”

“Kamu ngga capek, Neng?” timpalnya tidak percaya.

“Emp, belum mungkin,”

“Ya Allah, Neng. Aku lupa. Aku di suruh bibi nganterin makanan ke sawah buat paman,”

“Oh, gitu. Ya udah, ayo sekarang aja. Emp, gue temenin ya?”

Gito mengangguk. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju sawah Pak Rudi alias Pak Kepala Desa.

Gito meninggalkan Gladis sendiri. Ia mendekati pamannya, berbincang-bincang sejenak, dan kemudian menaruh rantang makanan itu di sebuah gubuk.

“Neng Gladis, mau main ngga?”

“Main apa?”

“Sini deh, seru. Beneran,”

Gladis mendekat, dan menyaksikan begitu uletnya Gito menancapkan benih benih padi. Sebenarnya Gladis jijik dengan apa yang dilakukan Gito. Kotor.

“Ayo, Neng. Ngga usah takut kotor. Nanti kuring deh yang cuciin baju Eneng,” katanya mencoba merayu Gladis.

Perlahan Gladis mulai menekuk lututnya, dan membantu Gito menancapkan benih benih padi di dalam sebuah kantung.

“Benih ini juga seperti manusia, Neng. Kalau ditempatkan di tempat yang baik, pasti akan jadi baik pula nantinya. Kalau dirawat, dijaga, pasti juga akan baik hasilnya. Tapi ada juga yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Kita juga harus seperti itu. Meskipun tidak ada yang menyayangi kita, kita harus tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain. Gimana caranya? Ya, misalnya dengan bersosialisasi dengan orang lain. Hidup pasti akan terasa lebih indah,”

“Gito benar. Mungkin gue juga harus seperti benih padi ini. Meskipun mama, papa, sahabat, Revan, atau siapa saja tidak peduli sama gue, gue harus tetap tegar dan bangkit. Berdiri untuk bisa membuktikan kepada mereka kalau gue bisa tanpa mereka,” pikir Gladis dalam benaknya.

Gladis semakin bangga dan terpesona dengan Gito. Dia hebat. Dia benar-benar membuatnya bangga. Belum pernah ada orang seperti Gito. Inilah motivator baru untuk Gladis. Revan bukan apa-apa sekarang. Dan Adib, sang bintang sekolah pun tidak bisa melebihi rasa bangga Gladis pada Gito, laki-laki aneh yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.

“Neng Gladis, ayo pulang, Neng. Udah sore atuh,”

“Iya nih. Aku juga udah capek banget. Eh, tapi kamu ke rumah nenek dulu ya?”

“Ada apa emangnya?”

“Ya, ngga ada apa apa sih. Pengen aja pamer sama kakek sama nenek soal kehebatan kamu,” sahut Gladis sambil tersenyum manis.

Gito juga tersenyum, tersipu malu. Mereka berjalan menyusuri jalan dengan angin sepoi dari hijaunya sawah yang membentang. Menyempurnakan senja yang cerah dan penuh canda tawa.

“Kreeek,” Gladis membuka pagar kayu yang sudah rapuh dimakan rayap itu. Diikuti derap langkah Gito masuk ke halaman rumah.

“Gladis,” panggil seseorang.

“Betty? Chika? Geby? Waahh, kalian?” Gladis berlari ke arah ketiga sahabatnya itu. Sedangkan ketiganya menyambut Gladis dengan pelukan.

“Free huge for sweety angel, hahaha,” kata keempatnya.

Gito hanya bengong memandang keempat gadis cantik di seberangnya sana. Mungkin ia belum pernah melihat gadis-gadis cantik seperti Gladis, Geby, Chika, dan Betty.

“Emp, Gito, kenalin. Ini sahabat-sahabat gue di Jakarta yang pernah gue ceritain ke loe,”

“Hai, Gito. Kenalin, gue Chika,”

“Gue Geby,”

“Emp, Betty,”

Ketiganya menyalami Gito dengan gaya centil mereka. Sedangkan Gito? Hanya dengan tampang lugu dan polosnya yang membuat ketiga sahabat Gladis itu tertawa.

“Oh, iya, Dis. Kita ngga sendirian loh ke sini,” kata Chika membuat Gladis penasaran. Gladis mengernyitkan dahinya.

Muncul sesosok laki-laki dan perempuan dari dalam mobil. Cukup membuat dada Gladis sesak kembali. Revan dan Sasha. Tapi Gladis tak mau menunjukkannya. Ia tetap terlihat santai, tegar, dan ceria seperti sebelumnya.

“Hai, guys…,” sapa Gladis menghampiri keduanya.

Revan dan Sasha tampak bingung. Keduanya saling pandang, tak mengerti dengan apa yang Gladis lakukan.

“Emp, ya udah. Mumpung semua udah ngumpul, mending sekarang kita masuk aja yuk,”

Gladis menarik teman-temannya satu per satu untuk masuk ke dalam rumah neneknya. Dan begitu terkejutnya ia ketika…

“Mama? Papa?” air matanya tak kuasa tertahan melihat mama papanya berbincang bincang dengan kakek, nenek, dan Tante Haliza. Senyum dan canda tawa mereka membuat hati Gladis tersentuh.

Ia memeluk mama dan papanya yang seketika berdiri menyambut putri tunggalnya itu. Pelukan hangat yang ia rindukan dari mama dan papanya yang terlalu sibuk dan tidak pernah ada waktu untuknya.

“Gladis!!!” kata Gito (yang sebenarnya lebih tepat disebut berteriak) sambil menepuk pundak Gladis yang otomatis kaget setengah mati.

“Arghhhh…, apa deh Gito??” timpal Gladis cuek.

“Kamu kenapa sih Neng Gladis? Yang lain pada sibuk main di sungai, eh kamunya malah ngelamun di gubuk. Kalo ada masalah cerita aja ke kuring. Kuring siap dengerin cerita Neng Gladis,”

Tanpa merubah posisi duduknya, Gladis bercerita panjang pada Gito meski dengan wajah dan suara yang amat teramat sangat datar.

“Gito, menurut loe mama sama papa datang ke sini beneran tulus buat damai atau cuma karena mereka pengen gue pulang ke Jakarta?” Gladis melirik wajah Gito seketika bungkam.

“Neng Gladis, ngga baik buruk sangka. Tapi menurut kuring mereka tulus kok. Ya kalaupun belum tulus yang murni tulus, setidaknya kan mereka sudah mencoba untuk damai dan memberi sedikit perhatian untuk Eneng. Itu juga kan yang Eneng pengen?”

Gladis tak menjawab. Hatinya membenarkan apa yang Gito katakan. Ia mulai mencoba menerima kenyataan ini.

“Hati-hati di jalan ya,” kata nenek.

“Iya, Nek. Tenang aja, kita bakal jagain Gladis 24 jam, haha,” sahut Chika mencoba mengajak bercanda nenek.

Gladis hanya tersenyum melihat tawa nenek, kakek, dan teman-teman seperjuangannya itu. Sedangkan mama dan papa Gladis sibuk memasukkan barang-barang ke dalam mobil.

“Ya udah, Bu. Kita pamit dulu ya. Lain waktu kita main ke sini lagi. Dek Haliza, jagain ibu sama bapak ya,” kata mama sambil menyalami tangan nenek dan kakek. Kemudian diikuti papa, Gladis, Betty, Chika, Geby, Revan, dan yang terakhir Sasha.

Mereka bergerak menuju mobil. Gladis memutuskan untuk ikut mobil papanya. Sedangkan teman-temannya berada di mobil Revan.

“Tungu!!!”

Mereka mencari sumber suara tersebut. Ternyata dari arah utara. Gladis kenal betul dengan suara itu. Ya, Gito.

“Neng Gladis, tunggu! Huh huh huh,” peluh peluh keringatnya mengucur deras.

Gladis tak menjawab. Beribu pertanyaan datang menghampiri benaknya.

“Ini buat Eneng. Tapi jangan dibuka di sini. Nanti dibukanya waktu udah keluar dari Garut aja ya? Ini Neng…,” Gito memberikan sebuah bingkisan dengan sampul kertas koran.

“Ini buat gue, Gito? Beneran?”

Gito mengangguk semangat. Bingkisan itu terlalu besar, kira-kira seukuran kardus mie instan. Gladis memeluk bingkisan itu erat. Kemudian menaruhnya di dalam mobil. Ia kembali dan memeluk Gito sama eratnya dengan bingkisan itu. Air matanya berlinang. Teman yang sepatutnya disebut sahabatnya itu pun tak kuasa menahan air mata. Keduanya berada dalam tangis.

“Neng, jangan lupain Gito ya di sana,”

“Iya, Gito. Gue ngga akan ngelupain loe,” jawab Gladis sambil sesekali mengusap air mata dan ingusnya.

“Tathaa, nenek, kakek, Tante Haliza, dan Gito-ku yang aneh, haha,” teriak Gladis dari dalam mobil. Ia melambaikan tangannya dan terus melambaikan tangannya hingga bayang-bayang mereka hilang dan tak tampak lagi.

“SELAMAT JALAN KOTA GARUT”

Gladis mengambil bingkisan dari Gito di bangku belakang. Sesuai dengan pesan Gito, ia membuka bingkisan itu ketika sudah berada di luar kota Garut.

“Layang-layang? Kerikil sungai? Hay, sarang burung?”

Gladis tersenyum-senyum menatap ketiganya. Dalam benaknya ia berkata,

“Suatu saat ketika aku kembali ke Garut dan bertemu kamu, aku akan membawa monas untuk kamu, Gito,”

**SELESAI**

2 Komentar »

  1. Bondan Said:

    Bagus . . . .🙂

    lanjutkan bwt cerpen yang lain . . .🙂


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: